daun

Minggu, 23 Desember 2012

keterampilan membaca



BAB I
PENDAHULUAN
        Membaca pada hakekatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, karena dalam membaca tidak hanya melafalkan tulisan-tulisan, melainkan melobatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca sebagai proses visual, karena membaca adalah aktivitas menterjemahkan symbol-simbol bunyi (huruf) kedalam kata-kata lisan. Membaca sebagai proses berfikir, karena dalam membaca melibatkan aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi dan pemahaman kreatif (Crawlet dan Mountain (1995) dalam Rahim, 2008:2).
         Tarigan (2008:7) mengutip pendapat Hodgson (1960:43-44) menyebutkan bahwa membaca adalah “suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis”.
Anderson (1972:209-210) dalam Tarigan (2008:7) menyebutkan bahwa dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding proses). Pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan yang mencakup pengubahan bahasa tulisan yang menjadi bunyi yang bermakna. Makna bahasa inilah yang memberikan manfaat kepada pembaca
Membaca merupakan kegiatan merespons lambang-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian yang tepat (Ahmad S. Harjasujana dalam St.Y. Slamet, 2008:67). Hal tersebut berarti bahwa membaca memberikan respons terhadap segala ungkapan penulis sehingga mampu memahami materi bacaan dengan baik. Sumber yang lain juga mengungkapkan bahwa membaca merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan, yakni mengamati, memahami, dan memikirkan (Jazir Burhan dalam St.Y. Slamet, 2008:67).
Secara umum tujuan membaca adalah mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami bacaan. Tujuan khusus membaca sesuai dengan kebutuhan pembaca misalnya menemukan masalah dalam suatu wacana, menemukan kejadian-kejadian dalam cerita.
Dalam kegiatan memaca dikenal yang namanya membaca intensif yaitu membaca study saksama, telaah teliti dan penanganan terperinci yang dilaksanakan dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek. Tujuan dari membaca intensif aadalah kesempurnaan dalam menangkap informasi, memperoleh pemahaman penuh terhadap apa yang dibaca.
Semua hal yang bersifat konkrit, memiliki dua bagian, yaitu bentuk dan isi. Itupun sama dengan bacaan atau wacana yang terdiri atas isi dan bahasa. Dalam membaca intensif dikenal dengan dua macam konteks, membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Dalam pembahasan ini akan diuraikan tentang membaca telaah bahasa. Membaca bahasapun memiliki cakupan lagi. Yakni membaca bahasa asing dan membaca sastra. Memilih membaca talaah bahasa karena dalam membaca telaah bahasa mencakup juga membaca sastra yang sesuai dengan jurusan dari perkuliahan yang sedang kami jalani sehingga kamipun memilih judul membaca telaah bahasa.


BAB II
RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja yang harus diketahui dalam memperbesar daya kata?
2.      Apa saja yang perlu diketahui dalam mengembangkan kosa kata kritik?
3.      Apakah yang dimaksud dengan membaca sastra?


                                                                                                   


BAB III
PEMBAHASAN
A.    Membaca Bahasa
Tujuam utama dalam membaca bahasa ini adalah:
a.       Memperbesar daya kata (increasing word power);
b.      Mengembangkan kosa kata (developing vocabulary).
Setiap orang mempunyai dua jenis umum daya kata. Yang satu dipergunakan dalam membaca dan menulis. Yang satu lagi adalah yang dipergunakan dalam membaca dan menyimak. Kedua jenis umum daya kata ini memiliki fungsi yang berbeda.
Uraian-uraian ini akan menolong kita untuk memperkaya kosa kata dan memperbesar daya kata secara sadar dan konsisten tetap.
1.      Memperbesar daya kata
                 Memperbesar daya kata dapat diartikan kemampuan untuk mengenal, menghadapi, memahami dan mencerna kata-kata baru yang belum lazim dan mendapakan makna yang cukup. Kemampuan ini patut dimiliki oleh pembaca agar aktifitas membaca lancer dan mudah memperoleh makna dari bacaan. Karenanya kita harus mengenal dan memahami beberapa hal dibawah ini:
a.       Ragam-ragam bahasa: dibedakan menjadi bahasa formal, bahasa informal, bahasa percakapan, bahasa kasar dan bahasa slang. Ragam bahasa tersebut digunakan pada tempat dan kondisi yang tepat dan kita tidak boleh sembarangan menempatkannya.
b.      Mempelajari makna dari konteks: bisa dilakukan melalui pengalaman. Salah satu cara yang terbaik untuk memperoleh kata-kata baru adalah melalui bacaan kita misalnya dilayar televisi, majalah.
c.       Bagian-bagian kata: terdiri atas awalan, akar kata, akhiran dan sisipan.
d.      Penggunaan kamus: akan menjadi penentu kebijakan perdebatan makna kata. Kamus sebagai penerjemah dan pengambil keputusan.
e.       Makna-makna varian: suatu kata yang memiliki makna yang berbeda sangat berperan dalam kesempurnaan membaca.
f.       Idiom: kelompok-kelompok kata mengandung makna-makna khusus disebut juga dengan istilah.
g.      Sinonim dan antonim: sinonim adalah makna yang hampir sama dalam kata yang berbeda, sedangkan antonim adalah kata yang berlawanan makna.
h.      Derifasi kata: telaah tentang asal usul kata. Dalam perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia. Bahasa daerahpun tak luput dari hal ini. Inipun turut memperkaya khazanah bahasa kita. Inilah salah satu upaya memperkaya daya kita.
2. Mengembangkan Kata-kata Kritik
Upaya memperbesar daya kata hanya dapat berlangsung dengan baik bila diikuti dengan upaya memperkaya kosakata, terlebih yang berkaitan dengan kritik(criticism) karenanya semakin banyak kosakata kita akan semakin baik. Oleh karena itu perlu pengetahuan tentang beberapa hal, antara lain:
a.       bahasa kritik sastra
ada dua fakta penting mengenai kata-kata:
1.      Kebanyakan kata dalam pemakaian umum mengandung lebih dari satu makna.
2.      Kita tidak akan memperoleh segala makna dari sesuatu kata  dalam setiap pertemuan dengannya.
Makna berada dalam pikiran dan ingatan orang, kalau mereka pintar maka makna dalam penulisan itu dapat diketik oleh pembaca. Makna juga dating dari pengalaman ketika melihat atau mendengar kata tersebut. Berusaha untuk memperoleh pengalaman dari kata kritik (criticism) yang akan mengembangkan, memperluas maknanya bagi kita. Kita sudah terbiasa dengan maknanya”mencari kesalahan” atau “menyensor”, kata itu digunakan untuk menganalisis serta membuat penilaian-penilaian atau pertimbangan-pertimbangan. Dengan kata lain criticism bermakna “the act of analizing and of making pidgments”.
Orang yang melukiskan dunia hanya dengan istilah-istilah yang menyangkut bagaimana dia merasai hal itu disebut “guilty of egotism”, orang yang menyombongkan kekurangannya. Semua itu merupakan alat atau sarana berfikir jelas dan tepat yang merupakan modal berharga untuk mempelajari bacaan.
b. Memetik Makna dari Konteks
            Kalau kita dapat memahami apa yang kita baca, tentu agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan sekitar kita harus memiliki suatu cara atau metode yang dapat menggarap kata-kata baru, kata-kata yang tidak lazim dalam kehidupan kita sehari-hari dalam suatu proses membaca.
            Kadang-kadang makna dapat didapatkan dari suatu kata dalam akar kata, kata dasar, prefiks, atau sufiksnya. Kadang makna juga dapat diperoleh dari petunjuk konteks, tempat kata/istilah baru tersebut dipakai. Bukan untuk mendapatkan makna penuh dari istilah baru tersebut hanya kebutuhan untuk memperoleh makna agar dapat melanjutkan proses membaca utnuk mendapatkan pengetahuan yang bulat. Perlu diingat suatu prinsip dasar bahasa tidak akan memperoleh segala makna dalam suatu kata setiap kali kita menemuinya.
Sebelum memperbincangkan petunjuk-petunjuk konteks terperinci, ketiga jenis makna itu antara lain:
1.      Makna yang bersifat menunjukkan(designative meaning);
2.      Makna konotatif(connotative meaning);
3.      Makna denotatif(denotative meaning).

Makna designatif suatu kata adalah jumlah karakteristik yang harus dimiliki oleh benda tertentu atau kriteria itu ditetapkan padanya.

Makna konotatif suatu kata adalah segala sesuatu yang disarankan, dianjurkan oleh kata itu; segala sesuatu yang teringat atau diingatkan kalau kita memikirkan sesuatu yang dinmai oleh kata itu. Merupakan kualitas-kualitas yang sering kita hubungkan dengan segala sesuatu, tetapi tidak perlu pada sesuatu itu kalau dia sudah pantas untuk disebut kata itu.
Makna denotatif sesuatu kata atau yang sering kita sebut denotasinya adalah segala sesuatu yang dapat diterapi oleh kata itu. Makna denotatif sering juga disebut makna ekstensional(ekstensional meaning), yaitu segala sesuatu didunia dapat dilukiskan dengan sebuah lambang.
            Apabila makna-makna konotatif suatu kata diterima dengan begitu universal sehingga seolah-olah merupakan bagian kata, berhentilah menjadi makna konotatif dan mejadi bagian desigmasinya.
c. Petunjuk-petunjuk Konteks
            Pengetahuan mengenai aneka jenis petunjuk konteks, dan bagaimana cara beroperasi, akan memberi kita bantuan yang sangat berharga dalam membaca dan menyimak secara matang segala sesuatu yang disodorkan kepada kita.
            Secara garis besarnya, terdapat lima cara konteks mencerminkan makna, yaitu:
1.      Definisi atau batasan
metode yang paling jelas dan langsung mencerminkan makna adalah dengan batasan atau definisi pada saat itu juga. Setiap penulis yang baik yang ingin membuat dirinya dimengerti akan berusaha sekuat daya membatasi istilah-istilah yang dipergunakannya.
2.      Contoh
Kadang-kadang, seorang penulis mengemukakan satu atau lebih contoh untuk memperlihatkan makna apa yang hendak dimaksudkan bagi kata itu. Acapkali contoh-contoh ini diperknalkan dengan kata-kata isyarat seperti: seperti, khususnya, terutama sekali, atau misalnya.
Usahakan mencari serta menemukan kata-kata isyarat seperti itu bila anda menjumpai kata baru dalam bacaan anda. Kata-kata isyarat itu dapat menunjukkan suatu contoh yang dapat mencerminkan kata baru itu.
3.      Uraian baru(restatement)
Uraian baru ini dipergunakan untuk menunjukkan suatu ide dengan membuat uraian baru. Kadang-kadang seorang penulis menjelaskan suatu istilah atau frase dengan jalan menerangkannya dengan cara lain, dengan uraian baru. Terkadang ia menggunakan parenthesis, tanda kurung, atau tanda pisah, contoh:
Deskripsi(pemeriaan) fonen-fonen yaitu kesatuan terkecil yang membedakan arti. Begitu pula dengan sintaksis yaitu pola-pola konstruksi morfem-morfem dan kata-kata menjadi frase-frase dan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut.
4.      Mempergunakan pengubah(modifier)
Ada kalanya dalam suatu frase atau kalusa pengubah, seorang penulis memperkenalkan makna suatu istilah. Kita harus teliti mencari pengubah-pengubah yang menjelaskan makna tersebut.
5.      Mempergunakan kontras
Sekali-sekali seorang penulis membuat satu kontras, suatu pertentangan yang akan memudahkan pembaca menguraikan serta menangkap suatu kata baru.

Kelima jenis petunjuk konteks yang telah diutarakan diatas merupakan petunjuk-petunjuk yang jelas dan visible bagi makna kata. Tetapi banyak konteks lainnya, barang kali, setengah dari yang ada menyampaikan makna dengan cara lebih rumit. Dalam konteks-konteks serupa itu kita harus dapat menduga-duga, meraba-raba kata baru itu.

B. Membaca Sastra
Membaca karya sastra merupakan membaca dengan keindahan, dapat tercermin dari keserasian, keindahan, keharmonisan antara keindahan bentuk dan isi. Didukung pula dengan norma-norma estetik, sastra dan moral.
a.       Bahasa Ilmiah dan Bahasa Sastra
Perbedaan penggunaan bahasa ilmiah dan bahasa sastra pada dasarnya memperbincangkan masalah konotasi dan deniotasi pada kegiatan menulis. Pada penulisan laporan-laporan penelitian pada bidang keilmuan ilmiah hampir semuanya tertulis dalam kata-kata denotatif, karena laporan-laporan tersebut mengungkapkan fakta, bukan perasaan, seperti terjadi pada penulisan kertas kerja eksposisional pada kajian ilmu-ilmu sosial.
      Sebaliknya, kalau kita menulis karya-karya sastra seperti cerpen, puisi, atau pidato, seringkali menggunakan kata-kata konotatif karena tulisan tersebut berhubungan degnan emosi dan mampu membawa pembaca terhanyut pada bacaan kaya sastra. Tulisan konotatif mampu membawa pembaca mempercayai hal yang sebelumnya tidak mereka percayai, kata konotasi walaupun sering dipakai dalam propaganda dan iklan pada dasarnya tidak bisa dikatakan baik atau jelek, karena itu bergantung dari penggunaannya , unuk baik atau buruk.
b.      Gaya Bahasa
Kekonotatifan bahasa sastra memperlibatkan emosi-emosi dan nilai-nilai. Tentu saja bahasa sastra sangat diperlukan terutama untuk memahami bacaan sastra. Karena dengan pengetahuan ini dapat semakin dimantabkan dengan keindahan karya sastra tersebut.
Gaya bahasa ini antara lain:
a.       Perbandingan, yang mencakup metafora, kesamaan, dan analogi;
b.      Hubungan, yang mencakup metonimia, dan sinekdoke;
c.       Taraf pernyataan, yang mencakup hiperbola, litotes, dan ironi
Gaya bahasa merupakan sumber yang amat penting dalam menulis dan membaca suatu karrya sastra, karenanya perlu pemahaman mendalam terhadapnya.
a.       Perbandingan
Gaya bahsa metafora, kesamaan, dan analogi sama-sama membuat koparasi atau perbandingan, tetapi dengan cara-cara yang berbeda.
1.      Metafora:suatu gaya bahasa yang paling singkat, padat, dan tersusun rapi. Didalamnya terlibat dua ide; yang satu adalah sesuatu kenyataan, sesuatu yang difikirkan, yang menjadi objek; dan yang satu lagi merupakan pembanding terhadap pernyataan tadi.
2.      Kesamaan berbeda dari metafora dalam hal: kalau metafora mengatakan secara tidak langsung adanya kesamaaan diantara dua hal, gaya bahasa kesamaan atau persamaan menyatakan serta menegaskan bahwa yang satu sama dengan yang lain; biasanya mempergunakan kata-kata seperti atau sebagai dan sejenisnya.
3.      Analogi agak berlainan degnan metafora dan kesamaan, biasanya melihat beberapa kesamaan bukan satu saja. Analog yang sugestif acapkali menekankan suau ide.
b.      Hubungan
Sinekdoke dan metonimia termasuk gaya bahasa hubungan(relationship); kedua-duanya menggantikan nama sesuatu dengan yang lainnya yang masih berhubungan.
1.      Sinekdoke member nama suatu bagian apabila yang dimaksud keseluruhan atau sebaliknya.
2.      Metonimia adalah penggunaan suatu kata bagi yang lainnya yang dimaksud
c.       Pernyataan
Dari segi tarafnya, pernyataan ini terbagi atas tiga jenis, yaitu:
1.      Pernyataan yang berlebih-lebihan(overstatement atau hiperbola);
2.      Pernyataan yang dikecil-kecilkan(litotes);
3.      Ironi
Hiperbola adalah gaya bahasa yang sering mengandung pernyataan yang dilebih-lebihkan dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk meningkatkan pengaruhnya.
Litotes adalah kebalikan dari hiperbola yakni suatu gaya bahasa yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan dengan maksud merendahkan diri.
Ironi atau ejekan adalah suatu gaya bahasa yang menyatakan secara tidak langsung sesuatu yang nyata, berbeda, dan kadang bertentangan. Ironi ringan merupakan sebuah humor tetapi ironi yang keras membentuk satire atau sarkasme, walaupun pembatas yang tegas antara hal-hal ini kurang bisa memuaskan.



DAFAR PUSTAKA

Tarigan;Henry Guntur.1979.Membaca.Bandung:Angkasa Bandung

Kamidjan.2004.Keterampilan Membaca.Surabaya:Unesa University Press

Annonnim.http://20211867.siap-sekolah.com/2012/04/14/pengertian-dan-tujuan-membaca/